Jantungku berdetak lebih cepat, seluruh badanku terasa melemah....ada rasa yang sulit kukendalikan tiap kali aku akan bertemu dengan kalian. Di satu sisi aku ingin sekali menjadi bagian penting dari kehidupan kalian, namun di sisi lain aku ingin sekali menghidarinya dan menjauh...pergi, sejauh-jauhnya...
Terkadang kujumpai kalian dengan senyum yang merona di wajah, namun terkadang aku jumpai kalian dengan tangis yang sangat memekik hingga akupun tak kuasa mendengarnya dan hanya mampu berkata "ga apa-apa sayang, nanti kita lanjutkan lagi ya...."
Pernah kutemui "kamu" yang begitu mengesankan bagiku. Kamu melihatku dengan tatapan yang aku sendiri tidak mampu menafsirkannya. Kuperhatikan wajahmu, sungguh...tidak ada yang salah bagiku...namun semuanya berubah ketika kucoba untuk mendekatimu dan kamupun berteriak histeris ketakutan....Ya Allah..."sayang, bukan hanya kamu yang terkejut, tapi ibu juga.." Kamu pun lari menemui guru dan ayahmu lalu memeluknya erat-erat, dalam hati aku berkata "aku belum berhasil rupanya". Tapi tidak lama setelah itu, kamu pun mau dibujuk olehku dan mau kembali bersama denganku tapi ketika kukeluarkan kertas berisi gambar-gambar kartun, kamu pun kembali berteriak histeris, namun kali ini kamu tidak berlari tapi justru memelukku dengan erat. Pelukan seorang anak yang sangat ketakutan, ya...aku rasakan itu...kamu memeluk erat leherku dan menekukan kepalamu sambil terus terisak. Dalam hati aku hanya bisa bertanya-tanya "ada apa sayang?". Saat itu aku hanya mampu mengelus bahumu karena itu satu-satunya cara yang kuketahui agar kamu bisa tenang. Sekian lama bergulat dengan emosimu, akupun tak mampu untuk memaksamu kembali mengikuti "permainanku" dan saat itu aku menyerah, sungguh-sungguh menyerah, walaupun dalam hati aku sedih sekali karena tak mampu "menaklukanmu". Kamu pun kembali ke kelasmu tanpa sepatah kata...ya aku baru sadar, sepanjang kebersamaan kita, tidak satu patah katapun yang kudengar terucap dari bibir mungilmu....
Selang beberapa waktu, aku kembali bertemu dengan "kamu" yang lain, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Sebelum kamu memasuki ruanganku, aku coba memperhatikanmu di depan pintu, saat itu kulihat kamu asik berjalan mengintari lingkaran teman-temanmu sambil memegang tempat bolpoin. Aku hanya mampu tersenyum tatkala kulihat kamu tidak bisa duduk tenang seperti teman-temanmu yang lain...Aku pun menghela nafas karena kurasakan pelan-pelan tak mampu menguasai diriku. Ya Allah, entah bagaimana jadinya nanti? Aku takut tidak mampu mengatasinya, aku tidak mampu membawamu larut dalam "permainanku". Kemudian kamu pun keluar ditemani pendamping setiamu di sekolah, saat berpapasan denganmu, aku tidak melihat kamu menatapku, kamu bahkan menyalamiku tanpa melihat ke wajahku. Aku pun dalam hati bertanya, kenapa sayang?, ada apa denganmu?". Mulai muncul dugaan-dugaan tentangmu dan aku hampir merasakan kecemasan yang tidak terbendung lagi tapi perlahan-lahan aku mencoba menguasai diriku sendiri. Aku dan kamu masuk dalam ruanganku untuk bermain tapi ternyata kamu tidak ingin pendampingmu meninggalkanmu, erm...aku hanya menarik nafas. Tidak masalah bagiku, yang penting kamu nyaman saat itu. Namun tatkala kita baru saja memulai, kamu pun kemudian bertanya tanpa henti, menjawab pertanyan yang kuberikan dengan kalimat yang tidak terstruktur dan tidak bisa kupahami. Pelan-pelan aku coba memahami, "apa kamu jenuh sayang?" tapi ibu baru saja memulai. Kemudian kamu tidak bisa berhenti untuk meminta menyudahi semua ini, walau dengan bujukan kamu pun tidak bisa dihentikan. Kamu menangis, meronta-ronta hingga akupun tidak kuasa melihatmu. Ya Allah....kudekati kursimu, perlahan kuusap bahumu tapi kamu terus menolak. Kudekatkan diri padamu agar kamu tidak merasa ada jarak, tapi kamu tidak henti-hentinya meronta. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri saja "permainan" in. Dan kamu pun berlalu pergi bersama pendampingmu...Aku melihatmu keluar, kuperhatikan setiap langkah dari kakimu hingga menghilang dari pandanganku. Aku terpaku...aku terdiam...aku hanya mampu termenung.."ternyata aku belum berhasil membuatmu merasa nyaman...". Tapi tak lama setelah itu, kamu mau menemuiku dan menceritakan keinginanmu untuk tidak ikut salah satu ekstrakurikuler dan lebih memilih ikut kelas olahraga. Setelah itu, kamu pun keluar ruanganku dan mengajak "tos" denganku. Saat itu aku mampu menghela nafas dengan lega karena ternyata kamu tidak "trauma" bertemu denganku seperti halnya kamu ketakutan ketika bertemu dengan orang "sepertiku". Aku rasa, perjumpaan kita bisa dilanjutkan nanti....Alhamdulillah...
Terkadang kujumpai kalian dengan senyum yang merona di wajah, namun terkadang aku jumpai kalian dengan tangis yang sangat memekik hingga akupun tak kuasa mendengarnya dan hanya mampu berkata "ga apa-apa sayang, nanti kita lanjutkan lagi ya...."
Pernah kutemui "kamu" yang begitu mengesankan bagiku. Kamu melihatku dengan tatapan yang aku sendiri tidak mampu menafsirkannya. Kuperhatikan wajahmu, sungguh...tidak ada yang salah bagiku...namun semuanya berubah ketika kucoba untuk mendekatimu dan kamupun berteriak histeris ketakutan....Ya Allah..."sayang, bukan hanya kamu yang terkejut, tapi ibu juga.." Kamu pun lari menemui guru dan ayahmu lalu memeluknya erat-erat, dalam hati aku berkata "aku belum berhasil rupanya". Tapi tidak lama setelah itu, kamu pun mau dibujuk olehku dan mau kembali bersama denganku tapi ketika kukeluarkan kertas berisi gambar-gambar kartun, kamu pun kembali berteriak histeris, namun kali ini kamu tidak berlari tapi justru memelukku dengan erat. Pelukan seorang anak yang sangat ketakutan, ya...aku rasakan itu...kamu memeluk erat leherku dan menekukan kepalamu sambil terus terisak. Dalam hati aku hanya bisa bertanya-tanya "ada apa sayang?". Saat itu aku hanya mampu mengelus bahumu karena itu satu-satunya cara yang kuketahui agar kamu bisa tenang. Sekian lama bergulat dengan emosimu, akupun tak mampu untuk memaksamu kembali mengikuti "permainanku" dan saat itu aku menyerah, sungguh-sungguh menyerah, walaupun dalam hati aku sedih sekali karena tak mampu "menaklukanmu". Kamu pun kembali ke kelasmu tanpa sepatah kata...ya aku baru sadar, sepanjang kebersamaan kita, tidak satu patah katapun yang kudengar terucap dari bibir mungilmu....
Selang beberapa waktu, aku kembali bertemu dengan "kamu" yang lain, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Sebelum kamu memasuki ruanganku, aku coba memperhatikanmu di depan pintu, saat itu kulihat kamu asik berjalan mengintari lingkaran teman-temanmu sambil memegang tempat bolpoin. Aku hanya mampu tersenyum tatkala kulihat kamu tidak bisa duduk tenang seperti teman-temanmu yang lain...Aku pun menghela nafas karena kurasakan pelan-pelan tak mampu menguasai diriku. Ya Allah, entah bagaimana jadinya nanti? Aku takut tidak mampu mengatasinya, aku tidak mampu membawamu larut dalam "permainanku". Kemudian kamu pun keluar ditemani pendamping setiamu di sekolah, saat berpapasan denganmu, aku tidak melihat kamu menatapku, kamu bahkan menyalamiku tanpa melihat ke wajahku. Aku pun dalam hati bertanya, kenapa sayang?, ada apa denganmu?". Mulai muncul dugaan-dugaan tentangmu dan aku hampir merasakan kecemasan yang tidak terbendung lagi tapi perlahan-lahan aku mencoba menguasai diriku sendiri. Aku dan kamu masuk dalam ruanganku untuk bermain tapi ternyata kamu tidak ingin pendampingmu meninggalkanmu, erm...aku hanya menarik nafas. Tidak masalah bagiku, yang penting kamu nyaman saat itu. Namun tatkala kita baru saja memulai, kamu pun kemudian bertanya tanpa henti, menjawab pertanyan yang kuberikan dengan kalimat yang tidak terstruktur dan tidak bisa kupahami. Pelan-pelan aku coba memahami, "apa kamu jenuh sayang?" tapi ibu baru saja memulai. Kemudian kamu tidak bisa berhenti untuk meminta menyudahi semua ini, walau dengan bujukan kamu pun tidak bisa dihentikan. Kamu menangis, meronta-ronta hingga akupun tidak kuasa melihatmu. Ya Allah....kudekati kursimu, perlahan kuusap bahumu tapi kamu terus menolak. Kudekatkan diri padamu agar kamu tidak merasa ada jarak, tapi kamu tidak henti-hentinya meronta. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri saja "permainan" in. Dan kamu pun berlalu pergi bersama pendampingmu...Aku melihatmu keluar, kuperhatikan setiap langkah dari kakimu hingga menghilang dari pandanganku. Aku terpaku...aku terdiam...aku hanya mampu termenung.."ternyata aku belum berhasil membuatmu merasa nyaman...". Tapi tak lama setelah itu, kamu mau menemuiku dan menceritakan keinginanmu untuk tidak ikut salah satu ekstrakurikuler dan lebih memilih ikut kelas olahraga. Setelah itu, kamu pun keluar ruanganku dan mengajak "tos" denganku. Saat itu aku mampu menghela nafas dengan lega karena ternyata kamu tidak "trauma" bertemu denganku seperti halnya kamu ketakutan ketika bertemu dengan orang "sepertiku". Aku rasa, perjumpaan kita bisa dilanjutkan nanti....Alhamdulillah...
Masih banyak kamu...kamu...yang lain yang pernah kutemui dalam pembelajaranku, kamu yang memeluku karena ketakutan, kamu yang duduk kemudian menangis di pangkuanku, kamu yang histeris di pelukanku, dan kamu...kamu...kamu.... Semua itu membuatku merasa menjadi orang yang beruntung karena bisa mengenal kalian. Kini aku sadari, mengapa setiap kali aku ditawarkan berjumpa kalian, setiapkali aku disodorkan alat tes Stanford Binet, setiap kali aku dihadapkan dengan kalian yang spesial, hatiku selalu saja bergetar, jantungku terasa berdegub kencang dan aku tak mampu menguasai diriku. Walau awalnya tidak mengenakan, walau awalnya ingin kuhindari, walau awalnya menyesakan dada namun pada akhirnya aku mengerti dan mau memahami. Itu semua karena kalian SPSEIAL bagiku....^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar