Kamis, 04 Juli 2013

Cita-Citaku

Sewaktu kecil tepatnya SD aku bercita-cita ingin menjadi POLWAN alias polisi wanita, suka pengen ketawa sendiri kalau ingat itu. Aku ingin jadi POLWAN karena menurutku, polwan itu terlihat tegas dan punya power. Ya..dulu aku tomboy banget, suka bertemannya sama cowo yang usianya jauh lebih tua. Suka manjat pohon meskipun ga pernah bisa manjat. Suka berantem sama cowo trus kalau udah ga bisa ngelawan, pulang deh ke rumah sambil nangis-nangis (hehehe, senjata ampuh perempuan). Tapi tidak lama, aku mengganti cita-citaku menjadi seorang KOWAT alias komandan wanita. Menurutku (yang masih kecil dulu) KOWAT lebih punya power dibanding POLWAN, jadi bisa menguasai bawahan-bawahannya, termasuk para cowo (aku punya obsesi membawahi cowo-cowo, mungkin bentuk kompensasi kelemahanku kali ya, :D ). Setelah masuk SMP, cita-citaku berubah lagi. Aku ingin menjadi dosen. Kata guru bahasa inggrisku waktu SMP, jangan mau jadi guru karena guru itu kerjanya lama tapi gajinya dikit. kalau dosen, kerjanya bentar tapi gajinya banyak. Heem..aku jadi terpengaruh (dari dulu, aku tidak mau bekerja yang menyita waktu seperti kedua orang tuaku). Akhirnya aku tanya ke guruku itu, : "kalau jadi dosen bagusnya jadi dosen apa pak?" Guruku menjawab : "kamu kan suka bahasa inggris, jadi dosen bahasa inggris aja". Hem..ya..ya.. akhirnya selama SMP, ketika ditanya dengan pertanyaan "what do you want to be when do you grow up?" aku selalu menjawab : "i wanna be english lecturer". Tidak hanya saat itu, tapi cita-cita itu aku ukir di depan meja belajarku, di setiap biodata yang aku isi (jaman aku SMP, lagi ngetrend kita ngisi biodata trus tuker2an sama temen2, hehehe). HIngga SMA kelas 1, cita-citaku tidak berubah, apalagi saat SMA kelas 1 aku bertemu dengan guru bahasa inggris yan sangat baik. Saking baiknya, aku dan 3 orang teman se-gengku (dulu masih suka geng-gengngan ^_^) akrab dengan guru itu, kami pernah ditraktir makan baso waktu guru itu terima gaji. hehehehe (modus). Tapi ketika naik kelas 2 SMA, guru itu harus cuti mengajar karena harus melanjutkan S2nya di kota lain. Aku dan teman-teman sangat merasa kehilangan, sampai suatu hari sebelum guru itu berangkat, aku menyempatkan diri untuk ngobrol dengannya tentang cita-cita. Guruku itu berkata : "kalau mau jadi dosen, jangan jadi dosen bahasa inggris". Aku : "kenapa pak?" Guruku : "kalau kamu jadi dosen bahasa inggris, kamu hanya akan punya satu keahlian, yaitu bahasa inggris tapi kalau kamu kuliah di jurusan lain, maka kamu akan punya dua bidang keahlian,  tapi bahasa inggrisnya tetap ditekuni ya". Heeem..aku jadi dilema (lebay dikit, hehhehe). Akhirnya untuk waktu yang lama, aku rasa aku hampir tidak punya cita-cita lagi. Sampai saat SMA kelas 3, aku baru sadar ketika ada salah seorang temanku yang berkata :"kenapa tidak jadi psikolog aja?, kamu kan sering jadi tempat teman-teman curhat". Aku pun mulai memikirkan, dan aku rasa menjadi psikolog tidaklah buruk, apalagi kan psikolog itu kerjanya membantu orang lain (pemikiran simpelku dulu, kalau jadi psikolog itu cukup mendengarkan curhatan orang-orang, hehehe). Sebenarnya, sejak dulu aku ingin sekali punya pekerjaan yang bisa membantu orang lain seperti dokter, perawat atau bidan. Tapi bagaimana bisa aku menggeluti pekerjaan itu? melihat darah atau luka sendiri saja, udah lemes minta ampun. Belum lagi kalau orang-orang udah cerita tentang operasi, pembedahanand all about luka+ penyakit, badanku jadi keringetan (bahkan menuliskan ini pun tanganku jadi keringat dingin -_-). Ya..akhirnya aku pikir, psikolog-lah cita-citaku.Di penghujung kelas 3, ada teman ayah yang datang ke rumah. Dia menawarkanku untuk menjadi apoteker dan masuk jurusan farmasi. Katanya peluang beasiswanya besar. Wah..aku jadi dilema lagi nih. hehehehe tapi ga lama karena saat itu aku berpkir kalau aku masu jurusan Farmasi, itu artinya aku akan bertemu dengan bahan kimia setiap hari. Dengan polosnya aku menolak langsung tawaran itu, why? karena waktu SMA, aku punya beberapa guru kimia yang sulit punya anak, kabarnya orang yang sering kontak dengan bahan kimia (khususnya perempuan) itu akan sulit punya anak. Oh...NO!!!! aku ga mau dong...Finally, saat SPMB di Makassar aku memilih jurusan psikologi sebagai piihan pertama dan kedua. Ternyata aku lulus psikologi di Bandung.Setelah masuk psikologi, aku merasa "tersesat", why? karena ternyata tidak semudah yang kubayangkan pemirsa. Mulai dari jadwal kuliahnya yang gila-gilaan, tugas-tugasnya yang luar biasa dan dosen-dosennya yang erm....kerenlah (hehehehe). Tapi akhirnya aku malah jatuh cinta dengan psikologi. Psychology is the part of my life. Sekarang, aku sedang menyelesaikan profesi psikolog dan magister psikologi klinis. Semakin ke sini, aku merasa semakin tidak mudah menjadi psikolog. Ada perasaan underestimate dalam diri. Bisakah aku menjadi psikolog yang baik? Mampukan aku menolong orang-orang yang membutuhkan jasaku kelak?Sebelum memutuskan untuk meneruskan ke jenjang profesi dan magister, aku sempat konsultasi dengan beberapa dosen semasa S1, aku bertanya "apakah aku cocok menjadi psikolog?". Hasilnya..mereka menguatkan aku untuk tetap memilih jalan ini.Pernah terfikir kalau lebih mudah jadi dokter, ketika ada pasien sakit, kita langsung mendiagnosa trus kasih obat deh.  Terkadang ada pertanyaan dalam hati, kenapa dulu ga jadi dokter aja? hehehe (in imah ngayal, udah tau ga mampu masih nanya lagi, hehehehe).Kini...tidak ada jalan mundur. Aku harus tetap maju.. Inilah jalan yang aku pilih. Satu hal yang hingga kini aku yakini : "menjadi psikolog itu  tidak mudah" Tapi di balik semua cita-cita ini. Ada satu cita-cita yang paaaaaliiiing mendalam yang ada dalam hati. Sejak dulu cita-cita ini selalu aku gaung-gaungkan, selalu aku ucapkan dan selalu aku harapkan. Yaitu menjadi IBU RUMAH TANGGA YANG BAIK. Tidak ada cita-cita yang paling tinggi dan mulia buatku selain menjadi IRT. Itulah, cita-citaku yang sebenarnya...*heem..catatan yang panjang dan lebar kaya coki-coki :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar